January 2015

Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kemiskinan
Sumber : http://cahyamenethil.files.wordpress.com/


Ilmu Pengetahuan secara garis besar adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya yaitu ; ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Epistemologis hanyalah merupakan cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh ilmu pengetahuan. Ontologis dapat diartikan hakekat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas  ruang lingkup ujud yang menajdi objek penelaahannya. Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan obyektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah, yang meliputi empat hal yaitu :
1.    Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih
2.    Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi
3.    Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan
4.    Merasa pasti bahwa setiap  pendapat, teori maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian.
Teknologi
Teknologi adalah satu ciri yang mendefinisikan hakikat manusia yaitu bagian dari sejarahnya meliputi keseluruhan sejarah. Teknologi, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) berkaitan erat dengan sains (science) dan perekayasaan (engineering). Dengan kata lain, teknologi mengandung dua dimensi, yaitu science dan engineering yang saling berkaitan satu sama lainnya. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata sekitar kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang, tentang materi dan energi dalam interaksinya satu terhadap lainnya. 
Dari ilmu pengetahuan dan “knowledge” ini, manusia menghasilkan ilmu rekayasa (engineering, atau kejuruteraan, teknik) yang berkembang di berbagai bidang. Beberapa bidang yang berkembang dalam rekayasa ini antara lain bidang aerospace, agrikultur, komputer, kimia, industri, sipil, perangkat lunak, dll. Dengan ilmu pengetahuan dan rekayasa ini, lalu berkembanglah berbagai teknologi. Akhirnya, muncullah teknologi diberbagai bidang, antara lain teknologi pesawat terbang, teknologi nuklir, teknologi audio video, teknologi elektronik, dan sebagainya.
Teknologi memperlihatkan fenomenanya alam masyarakat sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis.
Fenomena teknik pada masyarakat kini, menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagia berikut :
1.    Rasionalistas,
2.    Artifisialitas,
3.    Otomatisme,
4.    Teknik berkembang pada suatu kebudayaan
5.    Monisme,
6.    Universalisme,
7.    otonomi
Luasnya bidang teknik digambarkan sebagaia berikut :
1.    Teknik meluputi bidang ekonomi,
2.    Teknik meliputi bidang organisasional
3.    Teknik meliputi bidang manusiawi.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka nasional seperti kemiskinan.
Kemiskinan
Masalah kemiskinan memang telah ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan dan kemudahan – kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern.
Kemiskinan sering digambarkan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan  apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain.
Berdasarkan ukuran ini maka mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
1.    Tidak memiliki factor-faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan. Dll
2.    Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan ataua modal usaha
3.    Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai taman SD
4.    Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas
5.    Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai ketrampilan
Sumber : http://maharrhanni.wordpress.com/2013/01/15/ilmu-pengetahuan-teknologi-dan-kemiskinan/


3. Individu, Keluarga, dan Masyarakat
Sumber: http://www.alisikan.com/

3.1 Pertumbuhan Individu
Individu berasal dari bahasa latin yaitu Individuum yang memiliki arti tidak dapat terbagi. Jadi, Individu merupakan suatu bagian yang terkecil(paling kecil) dari masyarakat. Dengan begitu, Individu merupakan suatu kata yang sering digunakan untuk menggambarkan seorang manusia.
Pertumbuhan adalah suatu proses dimana adanya suatu perubahan yang terjadi menjadi lebih dewasa/lebih matang dari sebelumnya. Jadi, Pertumbuhan Individu adalah proses dimana seseorang akan menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.

Pertumbuhan Penduduk dipengaruhi beberapa faktor yaitu:
  • Pendirian Nativistik

Menurut para ahli, pertumbuhan individu itu berdasarkan bawaan sejak lahir(kemiripan). Misalnya, seorang ayah yang baik dalam hal analisis maka anaknya juga akan menjadi baik dalam hal analisis. Tetapi hal ini masih membingungkan, karena faktor-faktor lain juga dapat berpengaruh dengan pertumbuhannya sang anak.
  • Pendirian Empiristik dan Environmentalistik

Pendirian ini tidak seperti pendirian Nativistik yang dipengaruhi faktor kemiripan(gen). Para pengikut pendirian ini berpendapat bahwa pertumbuhan individu dipengaruhi oleh faktor lingkungan sedangkan kemiripan tidak berpengaruh sama sekali. Tetapi hal ini juga masih memiliki kekurangan, karena hal ini tidak memikirkan kematangan sebagai contoh, bila ada seorang balita normal yang hidup di tengah-tengah masyarakat, belum tentu anak itu dapat berjalan, hal ini disebabkan karena anak tersebut belum matang.
  • Pendirian Konvergensi dan Interaksionisme

Pendirian ini hanya merupakan suatu perkembangan/modifikasi dari pendirian sebelumnya, pendirian ini berpendapat bahwa pertumbuhan seorang individu dipengaruhi oleh interaksi dasar(seperti bakat) dan juga dipengaruhi oleh suatu lingkungan.
  • Tahap Pertumbuhan Berdasarkan Psikologi

Terdapat beberapa bagian yang berdasar ini yaitu:
  1. Masa Vital (0 - 2 tahun)
  2. Masa Estetik (2 - 7 tahun)
  3. Masa Intelektual (7 - 13/14 tahun)
  4. Masa sosial (13/14 – 20/21 tahun)

3.2 Fungsi Keluarga
Keluarga adalah suatu unit/kelompok terkecil yang terdapat dalam masyarakat. Kelompok ini merupakan primary group(kelompok awal/pertama) dimana akan mempengaruhi perkembangan suatu individu sebelum memasuki dunia masyarakat.
Fungsi adalah pekerjaan/tugas yang terbiasa dilakukan. Jadi Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan/tugas yang harus dilakukan oleh keluarga.
Fungsi keluarga mempunyai beberapa macam yaitu:
Fungsi Biologis
Dengan fungsi ini diharapkan supaya keluarga dapat membimbing persiapan-persiapan perkawinan untuk anaknya. Karena dengan perkawinan akan terjadi proses keturunan. Dan dengan ini diharapkan dapat membuat rumah tangga menjadi harmonis.
Fungsi Pemeliharaan
Fungsi ini mengajarkan bagaimana cara agar setiap anggota dapat memelihara lingkungan sekitar baik itu terhindar dari penyakit, kebersihan, dan bahkan sampai keamanan.
Fungsi Ekonomi
Fungsi ini mengajarkan bagaimana suatu keluarga mendapat makanan,tempat tinggal, dan pakaian yang layak bagi seluruh anggota keluarganya.
Fungsi Keagamaan
Fungsi ini mengajarkan untuk mengamalkan,menjalani serta mendalami nilai-nilai agama yang dianut sehingga akan membentuk suatu pribadi yang taat dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Fungsi Sosial
Fungsi ini mengajarkan bagaimana sang anak akan menghadapi dunia luar dimana akan banyak sekali terjadi hal-hal yang sebelumnya tidak diketahui oleh sang anak. Oleh karena itu sudah tugas dari orang tua untuk mendidik anaknya melalui nilai-nilai dan sikap-sikap yang baik untuk digunakan dalam kehidupan bermasyarakat.

3.3 Individu, Keluarga, dan Masyarakat
Pengertian Individu
Individu berasal dari kata individuum yang artinya tidak terbagi dan hal ini menunjukkan bahwa individu merupakan suatu bagian terkecil dari suatu masyarakat.
Pengertian Keluarga
Keluarga adalah suatu kelompok terkecil dari masyarakat yang seluruh anggotanya masih memiliki hubungan darah satu sama lain. Keluarga sebagai kelompok sosial yang terdiri dari sejumlah individu yang memiliki hubungan antar individu dan memiliki tugas masing-masing dan juga memiliki tanggung jawab serta kewajiban yang harus dijalankan.
Pengertian Masyarakat
Masyarakat adalah suatu kelompok orang yang memiliki sebuah sistem semi tertutup(semi terbuka) dimana interaksi yang terjadi antara individu dengan individu lainnya. Juga dapat diartikan bahwa masyarakat adalah wadah  segenap antar  hubungan sosial  yang terdiri dari banyak sekali kolektiva serta kelompok dan setiap kelompok tiap kelompok terdiri atas kelompok lebih baik atau subkelompok(Menurut Drs. JBAF Mayor Polak)

3.4 Hubungan Antara Individu, Keluarga, dan Masyarakat
Aspek Individu, Keluarga, dan Masyarakat merupakan suatu aspek sosial yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain yaitu tidak akan pernah ada masyarakat dan keluarga jika individunya saja tidak ada.
Selain itu individu juga membutuhkan keluarga dan masyarakat karena dengan tidak adanya hal tersebut manusia tidak akan memiliki wadah untuk mengekspresikan aspek dan interaksi sosialnya sehingga manusia tersebut tidak akan mampu melatih dan menumbuhkembangkan mental serta perilakunya.
Keluarga sebagai grup awal dari suatu individu memiliki peran yang sangat besar  dalam pembentukan karakter/sifat suatu individu sebelum memasuki masyarakat. Sedangkan masyarakat merupakan suatu wadah sosialisasi seorang individu untuk melakukan interaksi sosial kepada individu/kelompok lainnya secara lebih luas lagi. Sehingga akan diperoleh suatu hasil yang menentukan bahwa sikap individu tersebut sudah benar atau malah salah.

3.5 Urbanisasi
Urbanisasi adalah suatu proses dimana sebuah penduduk dari pedesaan berpindah dari desa ke kota. Saat ini, urbanisasi merupakan suatu masalah yang sering kali terjadi karena dengan hal ini akan menimbulkan beberapa hal yang negative bila mana orang yang berpindah dari desa ke kota tersebut tidak memiliki tujuan yang pasti serta bekal keterampilan.
Urbanisasi menimbulkan beberapa faktor yaitu:
Faktor Penarik
Faktor Pendorong
Kehidupan di kota modern
Lahan pertanian semakin sedikit
Sarana dan prasarana di kota lebih lengkap
Merasa budaya setempat tidak cocok dengan dirinya
Terdapat banyak lapangan pekerjaan
Di desa tidak mendapatkan pekerjaan
Pendidikan di kota jauh lebih baik daripada di desa
Sarana dan prasarana di desa terbatas

Selain adanya faktor, Urbanisasi juga memiliki dampak yaitu:
Dampak Positif
Dampak Negatif
Mengubah pola pikir warga desa menjadi lebih modern
Terbentuknya banyak pemukiman di pinggir-pinggir kota(suburb)
Menambah wawasan warga desa karena di kota jauh lebih berkembang
Banyaknya orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap
Terdapatnya suatu kerjasama yang baik antara warga desa dan kota
Lahan untuk membangun perumahan semakin sempit
Warga desa diharapkan dapat mengimbangi warga kota dalam berbagai aspek
Timbulnya kriminalitas yang tinggi dan kerawanan sosial

SOAL-SOAL
1. Apa yang dimaksud dengan individu?
A. Suatu bagian terkecil dalam masyarakat
B. Suatu kelompok dalam masyarakat
C. Peranan dalam masyarakat
D. Jabatan dalam masyarakat

2. Pertumbuhan penduduk adalah...
A. Proses pertambahan penduduk
B. Proses pertambahan populasi di suatu wilayah
C. Pertumbuhan seseorang menjadi lebih dewasa
D. Proses perpindahan penduduk

3. Individu berasal dari kata...
A. Individual
B. Individuum
C. Indiviidum
D. Individuun

4. Faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan awal suatu individu adalah...
A. Masyarakat
B. Musuh/Lawan
C. Guru
D. Keluarga

5. Salah satu dampak negatif urbanisasi adalah...
A.Timbulnya angka kriminalitas yang tinggi
B. Pekerjaan bertambah banyak
C. Warga desa menjadi lebih baik
D. Sosialisasi menjadi terhambat
Sumber:

Pertentangan - Pertentangan Sosial
Sumber: mssuoth.blogspot.com


Sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. Maka dari itu manusia saling membutuhkan satu sama lain agar dapat menjalani kehidupan ini menjadi lebih baik dan juga lebih stabil jika hidup bersama dengan manusia lainnya. Dengan begitu, manusia akan saling membantu sehingga akan membuat suatu ikatan yang dapat membuat manusia menjadi lebih kuat dari sebelumnya.


Akan tetapi setiap hal tidak ada yang sempurna, dalam kerjasama antara manusia dengan manusia tidak selalu berjalan dengan baik dan tidak selalu terjadi seperti apa yang tidak diinginkan. Selain menciptakan suatu kerjasama, suatu ikatan dari setiap manusia akan selalu memiliki sebuah pertentangan sosial/konflik sosial.

Menurut Stoner dan Freeman, Pertentangan sosial/konflik sosial itu terbagi menjadi dua yaitu:
  • Pandangan tradisional. Pandangan tradisional menganggap bahwa konflik dapat dihindari. Hal ini disebabkan konflik dapat mengacaukan organisasi dan mencegah pencapaian tujuan yang optimal. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang optimal, konflik harus dihilangkan. Konflik biasanya disebabkan oleh kesalahan manajer dalam merancang dan memimpin organisasi. Dikarenakan kesalahan ini, manajer sebagai pihak manajemen bertugas meminimalisasikan konflik.
  • Pandangan modern. Konflik tidak dapat dihindari. Hal ini disebabkan banyak faktor, antara lain struktur organisasi, perbedaan tujuan, persepsi, nilai – nilai, dan sebagainya. Konflik dapat mengurangi kinerja organisasi dalam berbagai tingkatan. Jika terjadi konflik, manajer sebagai pihak manajemen bertugas mengelola konflik sehingga tercipta kinerja yang optimal untuk mencapai tujuan bersama.
Pertentangan sosial bisa disebabkan karena beberapa hal, antara lain yaitu:
  • Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah unik. Dengan keunikan inilah akan menciptakan perndirian yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Perbedaan pendirian inilah yang bisa menjadi pertentangan sosial yang membuat setiap orang akan menjadi bertentangan. Misalnya, pada saat belajar setiap orang tidak semua bisa belajar dengan tenang tetapi ada juga yang bisa belajar saat orang lain berisik.
  • Perbedaan latar belakang kebudayaan
Perbedaan kebudayaan juga bisa memicu pertentangan. Biasanya karena masalah perbedaan budaya seseorang dapat menjadi berkelahi satu sama lain. Hal ini disebabkan karena terkadang setiap orang selalu menganggap bahwa kebudayaannyalah yang lebih baik dari orang lain sehingga akan menimbulkan suatu pertentangan sosial.
  • Perbedaan kepentingan antara kelompok dan individu
Biasanya, kepentingan suatu kelompok tidak selalu berbanding lurus dengan kepentingan setiap individu di dalam kelompoknya. Dan hal ini bisa menjadi pemicu yang membuat pertentangan di dalam kelompok menjadi terjadi karena disebabkan oleh individu yang memiliki kepentingan yang berbeda dengan kelompoknya.
  • Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan nilai-nilai ini bisa menjadi sebuah pertentangan sosial. Yang dimaksud dengan perubahan nilai adalah suatu perubahan yang terjadi secara bertahap yang lama kelamaan dapat membuat suatu kebiasaan itu berubah. Tetapi, perubahan nilai secara mendadak dapat menimbulkan beberapa masalah sosial. Contohnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami sebuah proses industrialisasi yang mendadak akan menimbulkan sebuah konflik sosial sebab nilai-nilai tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat akan berubah menjadi nilai-nilai industri. Hal ini akan memicu pertentangan sosial di dalam masyarakat pedesaan.

Menurut Dahrendorf, konflik/pertentangan dibedakan menjadi 6 macam yaitu :

  • Konflik/pertentangan antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
  • Konflik/pertentangan antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
  • Konflik/pertentangan kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
  • Konflik/pertentangan antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
  • Konflik/pertentangan antar atau tidak antar agama
  • Konflik/pertentangan antar politik.
  • Konflik/pertentangan individu dengan kelompok.
Dan dengan terjadinya pertentangan akan mengakibatkan beberapa hal yaitu:
  • meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.
  • keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
  • perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.
  • kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.
  • dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.


Masyarakat Perkotaan dan Masyarakat Pedesaan
sumber: www.anneahira.com

1.     Pengertian Masyarakat
Menurut  R. Linton, Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama, sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya berpikir tentang dirinya dalam satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.

Dari pengertian diatas, kita bias mengambil beberapa kesimpulan bahwa untuk menjadi masyarakat diperlukan beberapa syarat, yaitu:
Ø  Harus adanya pengumpulan manusia dan harus banyak.
Ø  Telah bertempat tinggal dalam suatu daerah dalam jangka waktu yang lama.
Ø  Adanya Undang-Undang atau aturan yan mengatur mereka untuk dapat menuju kepada kepentingan bersama.
Dan dipandang dari cara terbentuknya, masyarakat dapat dibagi dalam :
Ø  Masyarakat Paksaan, misalnya : Negara, masyarakat tawanan dan lain-lain.
Ø  Masyarakat Merdeka, masyarakat ini terbagi dalam:
·         Masyarakat Natuur, yaitu masyarakat yang terjadi dengan sendirinya, seperti gerombolan(horde),suku dan sebagainya yang bertalian dan memiliki hubungan darah antara individu satu dengan yang lainnya.
·         Masyarakat Kultur, yaitu masyarakat yang terjadi karena adanya kepentingan keduniaan atau kepercayaan, misalnya, koperasi, kongsi perekonomian, dan sebagainya.

2.     Masyarakat Perkotaan
Masyarakat perkotaan sering juga disebut dengan urban community. Masyarakat kota sangat berbeda dengan masyarakat di desa. Di kota kehidupan lebih modern daripada di desa. Dengan begitu, ada beberapa ciri-ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu:
Ø  Kehidupan keagamaan di perkotaan lebih kurang. Kegiatan-kegiatan keagamaan hanya di tempat peribadatan seperti masjid dan lainnya.
Ø  Orang kota biasanya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Di kota biasanya kehidupan agak susah disatukan karena masih memandang perbedaan keyakinan, paham politik, kesukuan dan sebagainya.
Ø  Pembagian kerja di masyarakat perkotaan lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata. Misalnya, seorang pengusaha biasanya hanya berkumpul dengan pengusaha yang selevel dan jarang sekali ada pengusaha yang mau bergaul dengan seorang pedagang kaki lima.
Ø  Lowongan kerja di perkotaan biasanya lebih banyak dan lebih bervariatif. Di perkotaan masyakarat memiliki perkerjaan berdasarkan keahlian masing-masing sehingga akan timbul banyak variasi pekerjaan berdasarkan keahliannya.
Ø  Jalan pikiran rasional pada umumnya dianut oleh masyarakat perkotaan. Interaksi yang terjadi biasanya lebih ke faktor kepentingan daripada faktor pribadi.
Ø  Jalan kehidupan di kota lebih cepat. Hal ini mengakibatkan bahwa waktu di perkotaan dapat dirasakan lebih penting dan harus dimanfaatkan lebih baik dengan pembagian waktu yang baik dan teliti.
Ø  Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di perkotaan. Karena biasanya kehidupan di perkotaan lebih terbuka sehingga akan membuat pengaruh-pengaruh dari luar akan sering masuk dan mengubah pola pikir setiap individu.

3.     Perbedaan Kota dan Desa
Ada beberapa faktor-faktor yang dapat membedakan antara kota dan desa sehingga hal ini dapat membuat kita tahu apakah suatu masyarakat dapat dikatakan sebagai masyarakat kota atau masyarakat desa. Ciri-ciri tersebut adalah :
Ø  Jumlah dan kepadatan penduduk.
Ø  Lingkungan hidup.
Ø  Mata pencaharian.
Ø  Corak kehidupan sosial.
Ø  Stratifikasi Sosial.
Ø  Mobilitas Sosial.
Ø  Pola Interaksi Sosial.
Ø  Solidaritas Sosial.
Ø  Kedudukan dalam hierarki sistem administrasi sosial.
Dengan adanya ciri-ciri tersebut kita dapat dengan mudah melihat manakah yang termasuk ke dalam kota dan desa karena perbedaan-perbedaan tersebutlah yang biasanya sangat menonjol dalam membedakan antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan.
4.     Hubungan Kota dan Desa
Hubungan antara kota dan desa tidak dapat dipisahkan begitu saja. Pada hakikatnya, walaupun keduanya merupakan suatu tempat yang berbeda tetapi tetap harus bergantung satu sama lain dan tidak bias berdiri dengan sendiri karena manusia ditakdirkan untuk hidup sosial sehingga, masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan merupakan suatu hal yang harus saling berinteraksi satu sama lain. Masyarakat kota membutuhkan bahan-bahan makanan yang dihasilkan oleh masyarakat desa seperti, sayuran,beras,buah-buahan dan sebagainya. Begitu juga dengan masyarakat desa, mereka membutuhkan masyarakat kota untuk mengerjakan beberapa proyek karena masyarakat kota memiliki variasi keahlian seperti, proyek membangun rumah,proyek jembatan,memperbaiki jalan raya, dan sebagainya. Dari contoh tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa masyarakat kota dan desa adalah suatu hal yang ditakdirkan harus hidup bersama karena dengan adanya interaksi antara masyarakat kota dan desa kehidupan di dunia akan menjadi lebih stabil dan juga berjalan dengan baik.

5.     Masyarakat Desa
Menurut Sutardjo Hadikusuma, Desa adalah suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri. Sedangkan menurut Paul H. Landis, Desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri-ciri sebagai berikut :
Ø  Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
Ø  Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
Ø  Cara berusaha(ekonomi) adalah agraris yang paling umum sangat dipengaruhi alam seperti, iklim, keadaan alam, kekayaan alam. Sedangkan pekerjaan yang bukan agraris merupakan pekerjaan sambilan.
Adapun ciri-ciri masyarakat pedesaan adalah sebagai berikut :
Ø  Pada masyarakat pedesaan, hubungan antara warga desa memiliki hubungan yang erat dan juga dalam dibanding mereka yang berasal dari luar desa.
Ø  Sistem kehidupan umumnya kelompok yang bersifat kekeluargaan.
Ø  Sebagian besar masyarakat pedesaan hidup dari pertanian dan pekerjaan yang bukan bertani biasanya merupakan pekerjaan sambilan.
Ø  Masyarakat desa cenderung homogen, baik dalam hal pekerjaan, agama, adat istiadat dan sebagainya.
Oleh karena itu, biasanya di pedesaan sistem kerja sama atau bias disebut juga dengan gotong royong, merupakan suatu faktor yang penting karena hal ini dapat mewujudkan kepentingan pokok yang sama dari semua warga desa.
Macam pekerjaan gotong royong, terbagi dalam dua macam yaitu:
Ø  Kerjasama untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbulnya dari inisiatif warga masyarakat itu sendiri (biasanya diistilahkan dari bawah).
Ø  Kerjasama  untuk pekerjaan-pekerjaan yang inisiatifnya tidak timbul dari masyarakat itu sendiri berasal dari luar (biasanya diistilahkan dari atas).

6.     Hakikat dan Sifat Masyarakat Pedesaan
Jika dilihat, Masyarakat di desa biasanya terlihat lebih tenang damai dan juga harmonis dan terlihat tidak memiliki berbagai masalah antara satu orang dengan yang lainnya. Hal ini membuat banyak sekali orang kota yang pikirannya sedang kusut dan lelah lebih sering memilih untuk berlibur ke desa karena di desa mereka mungkin akan mendapatkan ketenangan serta kedamaian. Tetapi sebenarnya tidak demikian, sebenarnya ketenangan masyarakat pedesaan itu hanyalah terbawa oleh sifat masyarakat yang diistilahkan dengan paguyuban masyarakat. Paguyuban masyarakatlah yang menyebabkan masyarakat kota dapat berpikir demikian. Tetapi kalau kita perhatikan lebih dalam lagi, sebenarnya masyarakat di desa juga memiliki beberapa konflik sosial seperti:
Ø  Konflik(pertengkaran) à Pertengkaran yang terjadi biasanya berkisar pada masalah masalah rumah tangga dan sering menjalar keluar rumah tangga. Hal ini bias terjadi karena terjadi di masalah kedudukan, perkawinan, gengsi dan sebagainya.
Ø  Kontraversi(pertentangan) à Hal ini terjadi karena perubahan konsep-konsep kebudayaan dan masalah ini biasanya terjadi karena kebiasaan yang berbeda.
Ø  Kompetisi(persiapan) à Hal ini terjadi bila ada suatu rasa iri terhadap orang lain sehingga akan memicu untuk orang untuk menjatuhkan orang lain.
Ø  Kegiatan pada masyarakat pedesaan à Masyarakat pedesaan merupakan masyarakat yang tidak bias berdiam diri karena untuk mereka yang bekerja keras akan mendapatkan sebuah apresiasi dari orang lainnya sehingga seseorang akan bekerja lebih keras.

7.     Sistem Nilai Budaya Petani Indonesia
Sistem nilai budaya petani Indonesia sebagai berikut:
Ø  Para petani di Indonesia terutama di Jawa pada dasarnya menganggap bahwa hidup itu sebagai sesuatu hal yang buruk, penuh dosa, kesengsaraan tetapi hal ini tidak membuat mereka kecewa, malah sebaliknya mereka sadar bahwa keburukan hidup itu dapat diubah jika terus berusaha.
Ø  Mereka beranggapan bahwa orang bekerja untuk hidup, dan kadang-kadang untuk mencapai kedudukan.
Ø  Mereka berorientasi pada masa ini(sekarang), sehingga kurang memperdulikan masa depan, mereka kurang mampu untuk itu. Bahkan mereka sering teringat tentang kekayaan masa lampau.
Ø  Mereka menganggap alam tidak menakutkan bila ada bencana alam atau bencana lain itu merupakan sesuatu yang harus wajib diterima kurang adanya agar peristiwa-peristiwa seperti itu tidak terulang lagi. Mereka cukup menyesuaikan diri dengan alam dan kurang adanya usaha untuk menguasainya.
Ø  Dan untuk menghadapi alam mereka cukup bergotong-royong, mereka sadar bahwa dalam hidup itu pada hakikatnya bergantung kepada sesamanya.

8.     Unsur dan Fungsi Desa
Unsur satu desa dapat terdiri dari 3 hal yaitu, daerah, penduduk dan tata kehidupan. Unsur lainnya adalah letak. Unsur letak ini menentukan besar-kecilnya isolasi suatu daerah terhadap daerah lainnya. Desa terletak jauh dari perkotaan dan biasanya memiliki tanah-tanah pertanian yang luas. Hal ini disebabkan karena di desa lebih sering ditanami dengan tanaman-tanaman pokok dan tanaman perdagangan daripada gedung atau perumahan.

Menurut Sutopo Yuwono, Salah satu peranan pokok desa terletak di bidang ekonomi. Daerah pedesaan merupakan tempat produksi pangan dan produksi komoditi ekspor. Peranan yang vital menyangkut produksi pangan yang akan menentukan tingkat kerawanan dalam jangka pembinaan ketahanan nasional. Oleh karena itu, peranan masyarakat pedesaan dalam mencapai sasaran swasembada pangan adalah penting sekali, bahkan bersifat vital.


Dilihat dari hal tersebut, fungsi desa sangat berpengaruh terhadap ketahanan nasional terutama di bidang ekonomi. Karena kondisi alam di desa sangat berbeda dengan di kota, maka di desa sangat memungkinkan untuk menanam bahan-bahan pangan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Maka dari itu, peranan desa sebagai produktor untuk pangan dapat dikatakan sangat penting dan bersifat vital.

Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat
Sumber : dinardc.blogspot.com

1.    Pelapisan Sosial
A.    Pengertian Pelapisan Sosial
Pelapisan Sosial atau Stratafication adalah suatu pembagian kelompok yang ada di dalam masyarakat yang dibedakan berdasarkan tingkatan. Dalam pembedaannya, pelapisan sosial sering kali dibedakan atas dasar kekuasaan, kekayaan, kehormatan serta ilmu pengetahuannya. Dengan adanya pelapisan sosial ini, di dalam kehidupan bermasyarakat akan menjadi stabil dan juga teratur karena setiap lapisan sudah memiliki tugasnya masing-masing karena jika tidak adanya hal ini, belum tentu kehidupan saat ini bias sestabil dan seteratur seperti sekarang.

B.     Dasar Pembentuk Pelapisan Sosial
Secara umum, dasar pembentuk pelapisan sosial dibedakan menjadi
·         Kekayaan à Bagi mereka yang paling kaya maka ada di tingkat paling atas dan begitu pula sebaliknya.
·         Kekuasaan à Bagi mereka yang paling berkuasa akan berada di tingkat paling atas dan sebaliknya tetapi biasanya orang yang berkuasa tidak lepas dari ukuran kekayaannya.
·         Kehormatan à Untuk hal ini, akan didapatkan jika seseorang memiliki banyak jasa dalam membantu masyarakat dalam menyelesaikan suatu masalah dan hal ini biasanya dimiliki oleh para orang tua dan juga mereka yang berbudi luhur baik
·         Ilmu Pengetahuan à Untuk hal ini, biasanya seseorang dibedakan berdasarkan gelarnya seperti Sarjana, Doktor dan sebagainya. Tetapi hal ini cenderung menimbulkan sesuatu yang negative dimana seseorang akan berusaha untuk mencoba segala cara agar mendapat gelar seperti contohnya membeli skripsi, ijazah dan sebagainya.
C.     Terjadinya Pelapisan Sosial
Terjadinya pelapisan sosial di dalam masyarakat terjadi berdasarkan 2 hal yaitu, terjadi dengan sendirinya dan terjadi dengan disengaja.
Ø  Terjadi dengan sendirinya
Hal ini terjadi secara ilmiah tanpa dipengaruhi apapun karena akan berjalan secara alamiah sehingga pengakuan secara kekuasaan akan tumbuh dengan sendirinya. Dengan begini, maka perubahan kedudukan suatu pelapisan akan berubah secara otomatis. Contoh, seseorang yang usia tua sering kali dianggap memiliki ilmu yang tinggi karena biasanya mereka sudah memiliki pengalaman yang sangat banyak.
Ø  Terjadi dengan disengaja
Hal ini bisa terjadi di dalam sebuah kelompok, karena biasanya di dalam sebuah kelompok semua anggota memiliki tujuan bersama sehingga akan ditentukan jabatan dan juga wewenang bagi setiap orang agar tujuan kelompok tersebut dapat terpenuhi.

D.    Perbedaan Pelapisan menurut  Sifatnya
Menurut sifatnya pelapisan ini terbagi menjadi dua yaitu sistem pelapisan tertutup dan terbuka.
ü  Sistem Pelapisan Tertutup
Sistem pelapisan ini dimaksudkan bahwa seseorang yang memiliki suatu tingkatan pada lapisan tidak mungkin berubah karena hal ini sudah menjadi bawaan sejak lahir. Contohnya: Perbedaan Kasta

ü  Sistem Pelapisan Terbuka
Sistem pelapisan ini seseorang dapat mengubah tingkatan pelapisannya dengan cara usahanya sendiri dan atas usahanya ini, seseorang dapat naik ataupun turun dalam tingkatan pelapisan yang ada di dalam masyarakat. Contohnya: Seorang pegawai biasa yang dapat menjadi bos di sebuah perusahaan.

2.     Kesamaan Derajat
A.    Persamaan Hak
Persamaan hak antara satu individu dengan individu yang lain pada hakikatnya adalah sama. Hak yang dimiliki dari lahir adalah hak asasi dimana hak ini dimiliki setiap manusia di seluruh dunia. Persamaan hak ini, sudah didalam Pernyataan Sedunia Hak-Hak(Asasi) Manusia atau University Declaration of Human Right (1948). Di dalam pernyataan itu terdapat pasal-pasal yang menyatakan tentang kesamaan hak yang dimiliki oleh setiap individu. Pasal-pasal tersebut adalah pasal 1, pasal 2 ayat 1 dan pasal 7.

B.     Persamaan Derajat di Indonesia
Di dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 terdapat penjelasan tentang hak dan kebebasan setiap individu yang berkaitan dengan adanya kesamaan derajat untuk setiap orang di Indonesia dan hal ini sudah tertulis secara jelas. Hal ini diketahui karena di Indonesia setiap orang memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan pemerintahan karena Negara kita menganut sistem kedaulatan yang bersifat kerakyatan.


Hukum dibuat untuk mengatur jalannya kehidupan secara teratur serta juga membuat kesamaan masyarakat secara umum tanpa adanya perbedaan. Dalam UUD 1945 terdapat 4 hal pokok yang menjadi ketentuan hak-hak asasi setiap orang yaitu terdapat pada pasal 27,28,29 dan pasal 31. Jika kita ambil kesimpulan, pasal-pasal tersebut dibuat untuk menjelaskan tentang hak-hak yang dimiliki oleh setiap orang di Indonesia baik dalam perorangan maupun dalam sebuah kelompok dan juga hal tersebut menjelaskan bahwa setiap orang akan dihukum jika melakukan kesalahan tanpa terkecuali.

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.