Raden Ajeng Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia menurut Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964. Kartini dikenal karena aksinya dalam membela serta berusaha untuk meningkatkan martabat perempuan pribumi di masa Kolonial Belanda.
Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van Raden Ajeng Kartini TMnr 10018776.jpg
https://id.wikipedia.org/wiki/
Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776.jpg

Kartini sendiri berasal dari keluarga bangsawan atau pada masanya kerap disebut sebagai priyayi. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dia merupakan kakak perempuan tertua dari semua saudara sekandungnya. Pada usia 12 tahun dia mulai belajar bahasa Belanda di ELS(Europese Lagere School). 

Setelah usia 12 tahun, Kartini sudah mulai bisa berbahasa Belanda dan mulai belajar sendiri dirumah dan mulai menulis surat-surat kepada teman-temannya yang berasal dari Belanda. Dari buku-buku, koran, dan majalah eropa Kartini mulai tertarik akan kemajuan berpikir dari perempuan Eropa. Dari sinilah timbul rasa ingin memajukan martabat perempuan pribumi yang pada saat itu dianggap sangat rendah. 

Pada tanggal 12 November 1903, Kartini menikah dengan seorang bupati rembang yaitu K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Setelah menikah, suaminya tau akan keinginannya dan suaminya pun mendukungnya. Kartini bahkan diberi kebebasan dan didukung untuk mendirikan sebuah sekolah untuk perempuan. Letak dari sekolah ini ada di sebelah timur pintu gerbang komplek kantor bupati rembang. Sekarang bangunan dari sekolah perempuan tersebut dikenal sebagai Gedung Pramuka. Pada tahun 1912, Sekolah Kartini didirikan oleh Yayasan Kartini. Tidak hanya di Rembang saja, Sekolah Kartini juga didirikan di beberapa daerah seperti Surabaya, Yogyakarta, Madiun, Malang, Cirebon dan daerah lainnya. Yayasan Kartini didirikan oleh keluarga seorang tokoh politik etis yang bernama Van Deventer. Kartini sendiri wafat pada tanggal 17 September 1904 di usianya yang ke-25 tahun.

Kontroversi

Surat-surat yang ditulis Kartini dikumpulkan oleh J.H Abendanon mengumpulkan serta membukukan surat-surat yang dikirimkan Kartini kepada teman-teman yang ada di Belanda. Abandenon sendiri pada saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan,Agama dan Kerajinan pada masa Hindia Belanda. Lalu buku tersebut diberi nama "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Karena surat-surat Kartini dikumpulkan oleh orang Belanda, maka ada beberapa kecurigaan bahwa surat tersebut tidaklah otentik atau asli. Karena pada masa Hindia Belanda politik yang dianut adalah politik etis dan Abendanon termasuk orang penting dan mendukung politik tersebut.

Hingga saat ini, sebagian besar naskah asli dari surat tersebut tidak diketahui keberadaannya. Dan untuk mengetahuinya maka harus diberikan kesaksian langsung oleh keturunan dari J.H Abendanon akan tetapi sangat sulit untuk dilacak oleh pemerintah Belanda. 

Penetapan hari Kartini pun diperdebatkan karena ada beberapa pihak yang memiliki pendapat bahwa hari Kartini lebih baik dirangkap pada hari Ibu agar tidak pilih kasih diantara pahlawan wanita lainnya. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini hanya di Jepara dan Rembang saja dia juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Sikap kartini yang pro terhadap poligami juga dipertanyakan karena bertentangan dengan pandangan kaum feiminis tentang emansipasi wanita.

Penulis                  : Andi Muhadir Amin

Materi Penulisan  :  https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

Post a Comment

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.