Aku menari ditengah teriknya matahari diiringi musik yang meriah. Orang-orang menyaksikan aksiku dengan gembira, bahkan ada yang menirukan aksiku. Kegiatan rutin yang sebenarnya membuatku bosan. Lelah sebenarnya aku siang ini memberikan atraksi-atraksi karena sudah tidak bisa kuhitung sejak pagi sampai sekarang aku menunjukkan berbagai kebolehanku. Ayah memberikan instruksi dalam setiap aksiku. Ayah? Dia bukanlah ayah kandungku tapi aku sangat menyayanginya, demikian pula ayah sangat memperhatikanku,mengajariku berbagai hal dari berbahasa sampai soal perasaan. Ya, aku dan ayah selalu berbicara lewat hati.
        Saat aku masih kecil, aku ditemukan ayah lalu dirawat. Kehidupan ayah yang tanpa anak dan istri seolah semakin 'hidup' sejak aku hadir dihidupnya. Aku masih ingat, saat pertama kali ayah memakaikan aku baju, aku sempat protes dalam hati memakai baju yang sepertinya tak pantas kupakai bahkan sempat kucakar-cakar baju dan rok tapi ayah dengan sabar sambil senyum berkata, "Betty, jangan nakal. Kamu anak ayah, kamu harus pakai baju lebih bagus dari ayah, ini baju ayah beli buat Betty biar Betty cantik, anak ayah harus cantik"
          Ayah juga mengajariku naik sepeda dan segala permainan lain. Sungguh penuh kesabaran. Aku ingat juga suatu hari saat selepas pertunjukkan aku sembunyi dan ayah mencari-cari sampai nyaris menangis, takut akan kesendirian tanpa aku. Saat aku muncul, ayah memelukku, membelai, menciumku sambil mengucapkan kata akan takutnya kehilangan aku.
        Selesai sudah pertunjukkan untuk kesekian kali ini. Ayah membereskan alat musiknya lalu menggendongku berjalan menuju sebuah taman yang sepi.
        "Kita duduk disini aja ya Betty, ayah lelah, kamu juga kan? Ayok makan dulu" Kata ayah sambil membuka bungkusan nasi sembari bersandar dipohon pinus.
         Ayah membelaiku, lalu menyuapiku nasi bungkus. Dengan lahap aku menyantap setiap suapan darinya. Sesekali ayah terbatuk. Ayah sudah sakit lama, sering saat tidur terbatuk-batuk. Aku biasanya membelai rambut pria tua ini. Wajahnya adalah goresan perjuangan hidup dibalut legamnya kulit. Aku menatap ayah, kali ini perasaanku tidak enak, entah kenapa tidak seperti biasanya.
        "Kenapa berhenti Bet? Nggak enak?bosen makan gini terus?"
        Aku tidak menjawab, aku menghambur ke pelukan ayah.
        "Ada apa Bet? Kamu sedih ya?"
        Aku membenamkan wajah ke dadanya. Ayah membelaiku penuh welas asih.
        "Kalau ayah tidak ada kamu, ayah sudah mati sejak lama. Hidup ayah cuma buat kamu. Ayah tidak punya siapa siapa di dunia ini Bet. Kamu banyak membantu hidup ayah, kamu sudah setia mendampingi ayah kehujanan kepanasan.. Maafkan ayah ya nak?"
       "Ayah, aku iklas mengabdi selama ini untuk ayah. Bagiku, pengorbanan yang aku lakukan belum sebanding dengan rasa sayang yang ayah berikan untukku. Betty takut kehilangan, takut berpisah dengan ayah. Jika bisa, biarlah penyakit yang ayah derita pindah ke Betty" Rintihku dalam hati.
        Ayah terbatuk lagi, kali ini berturut-turut sampai dadanya terguncang hebat, aku mendonggak menatap wajah ayah yang seperti menahan sakit.
        "Betty, ayah istirahat dulu, ayah mau tidur sebentar, sakit dada ayah"
        Ayah meluruskan kakinya sedangkan ke dua tangannya tetap memelukku. Penuh kasih sayang.
        "Tidurlah ayah, lepaskan lelahmu dalam tidurmu, aku menjagamu disini" Bisikku dalam hati.
         Ayah tertidur dan akupun tertidur. Aku tidak tahu sudah berapa lama, saat aku terbangun kulihat ayah masih terlelap. Aku menyandarkan kepala ke dadanya. Tidak berdegup?! Tidak seperti biasanya dimana aku merasakan naik turun dada ayah saat aku tidur didadanya.
        Aku mengusap wajah ayah, terdiam. Dari hidungnya keluar darah. Aku mencakar tangan ayah, masih terdiam.
        "Ayah? Ayah, bangun! Ayah?" Jeritku dalam hati, ayah pasti mendengarkan setiap aku bicara dalam hati.
        Ayah tidak bergerak sedikitpun. Tidak berapa lama ada orang lewat melihatku dan ayah lalu orang itu mengguncang bahu ayah.
        "Pak? Bangun pak."
        Berkali-kali orang itu mengguncang bahu ayah, lalu kepala ayah lunglai ke samping. Orang itu seperti panik lalu teriak memanggil-manggil orang yang lewat disekitar taman. Aku menjerit! Aku menarik-narik baju lusuh ayah, "Ayah!! Jangan mati, jangan tinggalkan Betty!! Ayah bangun!! Bangun!!"
          Aku teriak-teriak, melompat kesana kemari disekitar jasad ayah, aku tidak rela dengan kematian ayah. Aku benar-benar histeris, orang orang melihatku, mereka sepertinya menaruh rasa iba campur dengan takjub melihatku, melihat kesedihan dan kesetiaanku.
         Aku tidak bisa menghitung waktu, entah sudah berapa lama ayah pergi selamanya? Kini aku tetap dengan setia menunggui pusara dengan nisan tanpa nama ayah, tidur diatas pohon kamboja yang berdiri didekat kuburan ayah, aku tetap setia menanti kapan ajalku tiba untuk bertemu dengan ayah kembali, aku tetap setia. Sudah tak ada lagi musik mengiringi aksiku, tak ada lagi juga suara-suara ayah memberikanku semangat di setiap aksiku.. Aku sudah bukan lagi topeng monyet...
*sumber foto google*
Salam Love
- syahrintul -
Labels:

Post a Comment

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.