Hal paling menyakitkan adalah terlahir 'beda' seperti ini. Mungkin terdengar klise, aku hidup terjebak pada sebuah pilihan yang 'salah'. Pilihan? Aku tidak pernah mau memilih begini, tapi sebaliknya 'pilihan' yang jatuh pada diriku. Jika takdir bisa kumainkan, aku tidak ingin terlahir seperti ini atau bahkan aku tidak ingin terlahir sekalian ke dunia ini kalau hanya menanggung beban yang berat. Aku sudah mencoba untuk berubah, tapi tidak bisa!
Orang mungkin selalu menanggap aku tidak ada keseriusan untuk berubah bahkan ayahku beranggapan seperti itu, sampai pada titik dimana ayah hilang kesabarannya karena aku dianggap aib, ayah mengusirku dan tidak pernah akan menganggap aku anak selama tidak mau berubah.
       "Ayah, saya sudah berusaha, tapi saya selalu gagal. Saya bersumpah, saya sudah berusaha, tapi.."
       "Cukup! Sekarang kamu minggat dari sini, memalukan!! Najis!! Jangan sampai kamu injak rumah ini lagi, jangan sampai saya lihat mukamu lagi! Pergi!!" Hardik ayah sambil mendorongku keluar dari pintu rumah.
       Aku hanya menangis di depan pintu, ibu didalam juga menangis. Aku memanggil-manggil ibu, tapi sepertinya pintu tidak pernah terbuka lagi untukku.
Aku aib bagi keluargaku. Semua berawal atas 'beda' nya aku dengan mereka. Ayah mungkin masih bisa memaklumi perilakuku, tapi saat ayah memergoki aku sedang bercumbu dengan Arif sepupuku, itu adalah pukulan telak bagi ayah, bagi keluargaku.                                                                  
" jeung rintul mau periksa sama saya "
       Aku terusir, sendirian bagaikan daun kering yang luruh dari batang dan tertiup angin tak tahu tujuan. Terdamparlah daun kering ini ke tempat dimana aku bisa menunjukan 'siapa aku sebenarnya', tempat dimana memang aku harus berpijak yang sebenarnya juga tidak pernah aku inginkan... Taman Lawang.
Disinilah petualangan, ekspresi diri dan 'balas dendam' kutunjukkan tanpa perlu rasa cemas. Aku menjelma menjadi 'Susan'! Ya, Susan yang seksi, menggoda, genit dan manja. Bergaul dengan mereka para 'Susan-Susan' yang lain sepertinya aku menemukan dunia baru yang indah walau ketika aku merenung hal ini seperti daging yang diiris sembilu tajam, berulang ulang.
       Sebuah peristiwa merubah dunia 'kecentilan' ku. Saat aku di booking seorang pria di sebuah losmen, malam itu berujung tragedi. Saat aku dan dia sedang berasyik masyuk, tiba-tiba dia kejang dan akhirnya mati. Panik dan tidak ingin menemui banyak masalah dengan peristiwa itu, aku kabur.
Yang terfikir olehku adalah pergi sejauh mungkin.
       Kembali aku bagai daun kering yang melayang terbang mengikuti kemana angin bergerak. Disaat segalanya terasa buntu, aku teringat dengan nenekku yang selalu menyayangi aku dari kecil. Aku putuskan untuk sementara tinggal dirumah nenek di sebuah desa yang jauh dari Jakarta walau aku harus melepaskan bayangan 'Susan'.
       Sebulan lamanya aku akhirnya tinggal di desa itu dan aku sudah membuang sosok 'Susan' walau dari perilaku terkadang jiwa 'Susan' meletup muncul. Disinilah aku seolah terlahir kembali bahkan aku menekuni profesi sebagai tukang pijat urut untuk sekedar makan. Di desa inilah aku seperti mendapat hidayah dimana kewajiban yang aku tinggalkan kembali aku lakukan... Sholat.
       Sebuah mushola kecil sederhana yang selalu sepi aku hidupkan. Aku selalu datang sholat disana, mengumandangkan adzan bahkan aku mengajari mengaji anak-anak yang lucu, sungguh kutemukan artinya diriku bagi orang lain.
Kedamaian kuraih disini, bisa berbagi ilmu yang dulu pernah kudapatkan dari pesantren aku salurkan untuk anak-anak. Ah, betapa indahnya hidup ini kala aku akhirnya bisa menyadari betapa berartinya hidupku walau aku harus terlahir seperti ini tapi tidak ada alasan aku untuk tidak berbuat hal yang bermanfaat.                                                               
                                     
"duh ganteng banget tuh lekong eke sampe lemes deh nek"
       Tanpa harus berusaha keras untuk 'berubah' justru aku bisa berubah dengan sendirinya. Aku bersyukur dengan semua ini. Pelarianku dari Jakarta ada hikmahnya. Tapi sampai kapan? Apakah aku bisa menentukan? Oh tidak! Sebagai manusia normal yang punya hasrat dan keinginan, aku mulai terusik dengan kehadiran pria disampingku. Setiap aku melihat Imron seorang pedagang telur atau Basuki pegawai kelurahan ataupun Iman seorang dokter muda di Puskesmas, darahnya bergejolak, membayangkan mereka dekat dan mencurahkan sayang padaku dan sebaliknya, tapi apa mungkin?
       Iman! Ya, Iman paling mencuri perhatianku, Iman sudah sukses melantakan keimananku sejak kali pertama saat aku sakit dan berobat ke Puskesmas, Iman membuatku terpesona. Senyuman, tatapan, suaranya, sosoknya? Ahhh semua menarik bagiku. Kebetulan rumah dimana aku tinggal bersama nenek tak jauh dari rumah kontrakan Iman. Aku berusaha untuk mendekati dokter muda yang baru seminggu tugas di desa ini.
       "Pak dokter, maaf menggangu malam begini, sepertinya aku tidak enak badan,demam. Pak dokter punya obat?" Tanyaku mencari siasat untuk mendekatinya.
       "Oh, silahkan masuk. Didi ya? Maaf saya lupa, ayo masuk. Saya ada obat penurun demam, sebentar saya ambilkan"
       Tampan dan ramah. Perpaduan sempurna yang memporak porandakan hatiku.
       Tak berselang lama, Iman muncul membawa obat, "Ini Di, minum sehari tiga kali"
       "Makasih pak"
       "Jangan panggil pak, cukup Iman aja" Katanya dengan senyuman.
       Aku membalas dengan senyuman termanisku.
       "Sendirian mas Iman?"
       "Iya"
       "Darimana?"
       "Saya dari Bandung, kebetulan dapat tugas disini"
       "Jauh juga ya mas, apa nggak kesepian jauh dari... Pacar misalnya?" Aku mulai menyelidiki
       Iman tersenyum, "Ah, belum ada pacar, saking sibuk ngejar jadi dokter jadi ya mana ada sih cewek mau pacaran ama cowok yang terlalu sibuk sendiri dengan dunianya "                     
                                                                 
"pasien di pojok apakah syahrintul atau marirah?"
       Aku manggut-manggut, wajah kupasang serius, dalam hati aku menjerit, "Yess, baguslah!"
       Sejak malam itu, aku dan Iman kian akrab. Aku selalu mencuri waktu untuk bisa bersua dengannya. Sikap manjaku saat berhadapan dengannya kerap timbul. Aku berharap dia 'sama' sepertiku. 'Sama'? Apakah aku banyak berharap sampai hal mustahil seperti itu bisa terjadi?
       Malam ini aku harus memperjelas, aku tidak mau tersiksa lagi dengan khayalan dan pengharapan. Aku siap dengan kenyataan Iman tidaklah 'sama' denganku. Aku mendatangi rumah kontrakannya jam 10 malam, suasana benar-benar sudah sepi.
       "Oh kamu Di? Ada apa? Ayok masuk" Kata Iman setelah membuka pintu.
       Darahku berdesir melihat Iman hanya memakai celana pendek dan kaos oblong. Entah setan dari mana saja seolah menggempur fikiranku, merongrong kuncup hasratku yang lama tak mendapat curahan pria.
       "Mas Iman..." Aku memeluk Iman, sama sekali aku sudah terbakar gairah.
       Iman nampak kebingungan, kutangkap dari bahasa tubuhnya yang berusaha menjauhkan tubuhku yang erat memeluknya.
       "Di? Maksudnya...maksudnya apa ini?"
       "Mas Iman, aku sayang sekali dengan mas Iman" Aku kian erat memeluknya, membelai punggungnya.
       "Didi??!! Ini apa-apaan sih?"
       "Mas, apakah mas Iman tidak ada perasaan apa-apa terhadapku selama ini? Apakah mas Iman tidak menangkap perhatianku?"
       "Lepasin Di, kamu nggak boleh begini" Iman mendorong tubuhku, tidak berhasil, justru aku semakin erat memeluk dan berani menciumi lehernya.
        "Kamu gila Di!!" Iman mendorongku, kali ini berhasil! Aku terlempar ke belakang sampai terjatuh ke kursi panjang.
       "Keluar sekarang Di, keluar! Kamu sudah salah mengartikan semua ini, tolong keluar jangan ganggu saya!"
       Aku sudah tidak peduli, aku kembali menghambur ke tubuhnya, Iman tak bisa mengelak saat aku menciumi wajah, bibir dan lehernya walau sudah berusaha untuk menepis. Mungkin rasa terkejut atas sikapku ini yang membuat Iman tak bisa mengontrol tenaga sampai tubuhnya dan tubuhku terjatuh ke lantai. Aku sudah semakin gila, tanganku mencabik-cabik kaos oblongnya, Iman sudah dalam cengkeramanku, tapi aksiku tidak bisa berlanjut karena Iman teriak meminta tolong berkali-kali sampai akhirnya beberapa orang mendatangi rumah kontrakan Iman.
       "Najis!! Menjijikan!" Makian Kang Parno dipintu bersama beberapa orang yang datang.
       "Binatang!" Hardik Mas Giman.
       Aku yang sedang berada diatas tubuh Iman tiba-tiba diseret orang-orang lalu dilempar keluar. Beberapa warga kembali berdatangan, pastinya dengan sejuta pertanyaan atas kejadian apa yang sedang terjadi.
       "Ini ada apa ribut-ribut?" Tanya Basuki.
       "Ini ada manusia nista, pezinah! Laki-laki kok memperkosa laki-laki, cuih!!" Parto si penjual cilok meludahiku lalu beberapa orang menjambak, menampar dan menendang. Aku hanya bisa menutupi kepalaku dengan tangan.
       "Didiiiii?? Sudah cukup, kalian apakan cucuku? Cukup! Hentikan!"
       Tiba-tiba nenek muncul lalu memelukku yang masih saja ditendang orang sampai aku dan nenek tersungkur di tanah. Aku menangis, aku memeluk nenek, aku melindunginya dari perbuatanku.
       "Neneeeeek!"
       "Usir saja manusia laknat ini, bisa dikutuk desa ini ada orang kayak dia!" Kata mas Parlan sambil memukul kepalaku dengan kayu sampai aku merasakan kulit kepalaku robek dan darah mengucur.
       "Sudaaaaah, jangan siksa cucuku, dia tidak bersalah" Ratap nenek berusaha meredakan amukan orang-orang tapi sepertinya tidak digubris.
        Rambutku dijambak lalu diseret, sementara nenek yang aku peluk coba ditahan orang-orang. Darah mengucur semakin deras dari kepalaku tapi jauh lebih deras dan perih luka hatiku, luka yang aku perbuat, luka yang aku tanggung selama ini. Malam yang biasanya hening tenang berubah menjadi riuh, aku berjalan menyusuri gang, orang-orang melempariku dengan batu, sendal dan apa saja yang mereka temui.
        Aku melangkah pergi dari desa itu dengan penuh sesal dan kesedihan. Air mata tak bisa lagi menebus kebodohanku ini. Kutinggalkan nenek yang selama ini sudah bisa menerima pelarianku, kutinggalkan murid-murid mengajiku yang lucu-lucu dan mas Iman.
Kini, daun kering ini kembali tertiup angin yang tidak jelas kemana arahnya...

Salam Marjinal
- Syahrintul -
Labels:

Post a Comment

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.