sumber: google

Judul : AYAM GORENG & TELUR PINDANG

     Ini kisah aku, adik dan bapakku. Kita bertiga hidup dengan segala keterbatasan tapi tetap mencoba membuat dunia kecil kita tetap bahagia. Apa itu kebahagiaan? Menurut bapak, kebahagian itu saat kita masih bisa mensyukuri dengan apa yang saat ini kita jalani. Mungkin keluargaku serba kekurangan, tapi kita bertiga selalu berjuang untuk mengusir kekurangan itu dengan harapan, khayalan dan senyuman.
      Aku punya cita-cita jadi Pilot, agar aku bisa mengantar bapak ke seribu negara, Bayu adikku bercinta-cita jadi dokter, khas impian dan cita-cita anak kecil bukan? Kalau bapak ingin aku kelak tidak kekurangan agar tidak ditinggal orang yang dicintai seperti dirinya. Ibu? Ya, ibuku sudah lama meninggalkan kita, ibu sudah sumpek dengan kemiskinan, ibu pergi dan tidak pernah kembali. Sedih? Rindu? Sudah pasti tapi bapak selalu bilang kalau bapak bisa jadi ibu sekaligus. Luar biasa!
     "Bapak hari ini ngga jualan satupun cobek, besok coba bapak jualan depan pasar moga saja laku"
     "Besok aku bantu jualan pak, kebetulan sekolah libur. Bapak kalau ngga jualan ngga apa" Kataku sore itu saat bapak duduk sambil aku pijat kakinya sementara Bayu tiduran di kasur lusuh yang digelar dilantai.

     "Ngga usah masak nasi mas, tadi ada undangan kenduri di rumah pak Warso, nujuh hari istrinya, lumayan kan dapet besekan, kita makan telor sama daging ayam, asiiiik! Makan nasi besek, daging ayamnya di suwir dibagi-bagi sama telor dipotong, sudah lama ngga makan itu kan? Terakhir kapan ya? Sudah ngga inget" Kata Bayu dengan ceria.

     "Ya udah, ngga usah masak nasi, ngga usah beli sayur,nanti bapak kenduri kalian tunggu aja ya makannya. Jam berapa Yu?"

     "Abis Isya Pak. Dulu kalau bapak pulang kenduri, pasti ibu bagi-bagi isi beseknya ya, telor nya dipotong empat, ayamnya dibagi sampai kecil-kecil, peyek sama kerupuk juga, sayur tempe kebagian dikit-dikit, perkedelnya di cuil-cuil".

     Kita terdiam semua. Masing-masing mungkin saat itu terbayang wajah ibu, kenangan bersama ibu di rumah kecil ini, rumah yang sangat sederhana.

     "Pak, Bayu ngga sembuh-sembuh, sudah enam hari sakitnya, gimana kalau besok dibawa ke dokter saja? Uangnya pinjem sama bu RT saja, Aku khawatir pak, tadi siang Bayu demam, panas, menggigil gitu, udah aku kompres mendingan dikit"

     "Aryo, bapak juga bingung, mau gimana lagi ini, uang sama sekali ngga punya, buat makan kalian saja susah. Besok bapak cari utangan, jangan sama bu RT, ngga enak utang bapak sudah banyak sama bu RT"

     "Tapi bu RT baik pak, kalau tetangga lain pelit, mana percaya kita ngutang? Kemarin saja mau utang mie di warung mbak Minah ngga boleh soalnya kita belum bayar utang. Pak, kenapa ya kita kekurangan gini bukannya ditolong malah kayak dijauhi ya?"

     "Ngga boleh kita prasangka gitu Yo, kita harus tetep bahagia, yang penting kita tetep usaha, ngga boleh putus asa. Kalau bapak lihat tetangga ke kita ya baik-baik, buktinya kita diundang kenduri, ya kan? Kalau ngga boleh lagi ambil di warung mbak Minah ya mungkin utang kita banyak, belum bisa bayar, bukan artinya mbak Minah jahat kan?"

     Bapak selalu begitu. Selalu berbaik sangka. Selalu tersenyum. Bapak banyak memberikan energi positif buatku. Walau bapak tidak mengajari dengan perkataan, aku bisa menangkap cara bapak memberikan 'pelajaran' akan kehidupan.
                                
sumber foto google

     Selepas Isya, bapak kenduri, aku menunggu bapak sampai digigit banyak nyamuk di halaman rumah pak Warso. Terbayang makan dengan telor pindang dan daging ayam membuat perutku semakin lapar. Selesai kenduri, aku lihat orang-orang keluar rumah pak Warso, aku berlari kecil menghampiri bapak dan nasi besek aku terima, lalu aku berlari menuju rumah melewati gang-gang kecil yang berkelok. Kubayangkan Bayu sudah menunggu didepan rumah pasti girang saat melihat aku pulang.

     "Bruuuugg!!" Tubuhku terjatuh saat berlari tersandung akar pohon nangka. Besek yang kubawa terlempar.

     Aku bangun dan mengambil besek tapi sudah tumpah semua isinya. Aku panik campur sedih. Membayangkan bagaimana Bayu pasti kecewa tidak jadi makan dengan daging ayam dan telor pindang. Gagal sudah 'pesta' dirumah. Akhirnya aku mengambil telor dan daging ayamnya, lalu aku melangkah cepat pulang dengan perasaan bersalah.

     "Bayu.. Bayu?" Panggilku sambil melongok ke dalam. Aku melihat Bayu tertidur di bangku panjang.

     "Bayu, maafin aku ya, beseknya jatuh, nasi sama sayurnya tumpah tapi aku bawa telor sama daging ayam, kamu makan dulu aja ya"

     Bayu tidak bergerak. Aku letakkan daging ayam dan telor di meja. Aku mengoyangkan bahu Bayu sambil memanggil agar bangun. Bayu masih diam, tidak bergerak sama sekali. Kusentuh lehernya, dingin.

     "Bayu, bangun Yu! Ini Aryo, bangun Yu, kita makan Yu, ayo Bangun Yu! Ini telor sama daging ayamnya, banguuuuun... Banguuun Yu!"

     Aku menangis sambil menggoncang-goncang tubuhnya, Bayu tidak bergerak, membisu dan beku. Aku kian keras menangis. Bapak muncul didepan pintu, lalu menghambur ke arah Bayu, bapak memanggil-manggil Bayu. Ya, Bayu sudah pergi, pergi untuk selama-lamanya.

     Kini setelah 20 tahun berlalu, saat aku pulang kampung bersama bapak, setiap nyekar ke makam Bayu, tak pernah lupa aku membawa sepotong daging ayam dan telor pindang, makanan yang tidak sempat Bayu nikmati kala di hari terakhirnya bersama aku dan bapak.

******************
     
Judul : PHONE SEX

     Aku seorang suami dengan 1 anak. Aku sebenarnya sangat beruntung punya istri yang giat bekerja, saat aku sarankan dia fokus mengurus anak, dia menolak, baginya dengan berkarier itu hidupnya tidak bergantung pada suami saja. Dilihat dari luar mungkin kita adalah pasangan yang sangat ideal tapi bagi kita yang menjalani, ada suatu masalah yang sebenarnya sangat mengganjal yaitu urusan ranjang. Entah kenapa, akhir-akhir ini dimataku istriku kurang menggairahkan diatas ranjang dan sepertinya dia pun kurang bersemangat untuk melayaniku.

     Semua diselesaikan dengan diam, seolah tak terjadi apa-apa, seakan semua baik-baik saja, mungkin kita merasakan kondisi yang ada tapi malas untuk membahasnya karena kita memang sama-sama keras kepala dan segala pembicaraan berakhir dengan debat tak jelas juntrungannya.
                       
sumber foto twitter

     Kisah 'petualangan' singkat yang nakal ku berawal dari sebuah iklan hotline phone sex yang tak sengaja kubaca di koran berbunyi : 'Mas, udah basah? Sini Yanti basahin lagi ahhhh' beserta nomor telponnya. Pikirku, ini adalah cara lain iseng yang akan jadi variasi pemuas sex yang sudah tak tersalurkan secara memuaskan dengan istri. Saat jam istirahat, aku tidak makan diluar, suasana kantor sepi, lalu aku telpon nomor si 'Yanti'. Setelah berbasa basi dengan si 'Yanti' yang suaranya mendesah menggoda, aku mulai semakin nakal lewat telpon.

     "Yanti, sering basahin pria ya?"

     "Achhh si mas ini, Yanti kan memang kerjanya basahin anu cowok, apa anu si mas mau dibasahin lidah yanti? Kalo mau ihhhh sekarang ajiaaaaah mas"

     Entah kenapa, libidoku langsung menggelegak tak terbendung. Ada 'pemberontakan' didalam celanaku. Oh Yanti, kamu sungguh menggairahkan.

     "Yanti, tahan berapa lama ngebasahinnya? Punya mas gede lho" Rayuku dengan suara berbisik, sebenarnya aku merangsang diri sendiri.

     "Uhhhmm.. Segede apa sih maaaaass? Bole Yanti buka ngga sangkarnya? Lidah Yanti dah gatal maaaasss achhh.. Ayok dong mas dibuka pahanya, Yanti merangkak yaaaah dibawah kaki mas.. Yanti raba pahanya, lalu Yanti gigit sletingnya trus Yanti tarik kebawah aaaaouucch... Yanti udah liat punya mas, kebungkus sempak tuh, aduhh Yanti ga tahan..sluuurrp... Ahhh ughh Massss.. Ga muaaat maaass oughhh.."

     "Anjrit! Edan juga nih cewek di telpon bikin aku konak!" Umpatku dalam hati dengan menahan gejolak nafsu yang kian terbakar.

     "Aaahh Yanti, mas ga tahan nih, terus Yan, teruuus aaaahh..yesss maju mundur Yan, oooh.. Enak Yan.. Terus iseepp" Aku makin mahir 'akting' demi memuncakkan gairah.

     "Iyaaaaah mas, aaakhh Yanti dah basaah mulutnya..oughhh gedeeee Mas, aduuuh aoughhh Yanti kesedak, terus Mas... Perkosa Yantiiii ahhh... Yesss ahhhh... Sodok mulut Yantiii ahhhh" Jeritan manja nan binal Yanti makin bikin aku blingsatan, sayangnya di kantor jadi tidak leluasa.

     "Stop sayang..stop! Nanti sayang, aku masih dikantor ya. Yanti ada nomor hape? Yeaaah sekedar ketemu apa bisa? Kalau memang Yanti mau, bisa lanjut check in kan?"

     Entah setan mana yang merasukiku saat ini. Gairah menggebu gara-gara service phone sex Yanti bikin aku justru makin nekat dan penasaran untuk lebih jauh. Yanti memberi nomor hape nya, aku catat di selembar kertas lalu aku menyudahi phone sex karena memang kurang leluasa di kantor.

     Jam 6 sore di sebuah Plaza tempat dimana aku janjian dengan Yanti. Aku berdiri didekat ATM, posisi sedikit bersembunyi. Aku sms Yanti memberitahu kalau aku di dekat ATM. Beberapa menit kemudian aku baca sms Yanti masuk berbunyi sudah jalan ke arah ATM. Akhirnya aku telpon.

     "Yanti, kamu dimana?"

     Aku kurang jelas mendengar suaranya karena suasana Plaza memang cukup ramai dengan suara-suara musik dari beberapa counter.

     "Ya, sebelah mana? Aku di ATM pakai kemeja biru, kamu? Ya dimana? Di ATM? Baju apa?oh yang..."

     Jantungku serasa mau copot! Hape yang aku pegang nyaris jatuh, mataku terbuka lebar dan mulutku melongo karena kagetnya! Saat ini aku dan istriku sedang saling menatap dengan jarak tidak terlalu jauh. Dia juga nampak terkejut dengan apa yang dia lihat. Jadi Yanti itu istriku??

*****************

Judul : AKU TIDAK PULANG

     Aku bosan di bully, aku bosan jadi pecundang yang selalu jadi bahan tertawaan dan diremehkan. Aku bosan, aku harus berubah, apapun caranya, termasuk aku jadi 'benalu' bagi gank nya Heru, Zac, Dito dan Rudi. Mereka berempat yang jadi leader di kelasku bahkan mungkin jadi sosok-sosok paling disegani di sekolah. Aku memutar siasat agar bisa masuk ke dalam gank mereka sekalipun aku jadi kacungnya, yang penting aku bisa ikut disegani.

     Langkah yang aku ambil awalnya dengan mencuri dompet Rudi, saat Rudi dkk heboh kehilangan, aku muncul bagaikan pahlawan mengaku menemukan dompetnya. Langkah selanjutnya, aku memberikan mereka 'jasa gratis' mengerjakan PR buat mereka yang artinya aku diajak ke markas mereka. Langkah lainnya, aku rela mentraktir mereka yang artinya siswa-siswa lain bisa melihatku akrab dengan Rudi dkk. Awalnya sulit mendekati mereka, perlu banyak perjuangan dan benar-benar rela merendahkan diri serendah-rendahnya.

     Inilah pengorbanan demi sebuah eksistensi dalam pergaulan, aku tidak peduli, toh selama ini di kelas oleh teman-teman lain aku tidak dianggap bahkan aku duduk sendirian.

     Siang itu sepulang sekolah, disamping sekolah Rudi dkk mengumpulkan siswa-siswa cowok, Rudi memberitahukan bahwa Zac semalam dikeroyok siswa-siswa SMA 69 dan Rudi sudah menantang SMA 69 untuk diajak duel rame-rame. Saat inilah aku dituntut terlibat, mau tidak mau aku harus mau walau nyaliku menciut. Dengan gagah berani, Rudi dkk memimpin yang lain menuju ke sebuah lapangan dimana tempat itu sudah disepakati untuk tawuran.

     "Demi nama sekolah kita, demi persahabatan kita, jangan ada yang mundur, kita hajar mereka!" Kata Rudi memberikan semangat.

    "Kalau sampai ada yang mundur, awas, kalian akan menyesal!" Lanjut Rudi memberikan ancaman.

     Panasnya matahari jelang sore tidaklah sepanas pertarungan sengit antara siswa sekolahku dengan siswa SMA 69. Ditengah pertarungan itu, aku lihat Rudi menikam salah 1 lawan. Sementara temanku yang lain sudah saling berusaha menjatuhkan. Aku sendiri berdiri tidak menyerang sama sekali. Ketakutan kian menjalar. Tiba-tiba aku terjatuh, ada sebuah pukulan keras benda tumpul menghantam kepala bagian belakangku. Pandanganku mulai kabur, lalu gelap!
               
sumber foto google

     Diluar sana, saat maghrib tiba dimana suara adzan berkumandang di segala penjuru, ada seorang pria setengah tua duduk di kursi roda menanti anaknya pulang, anak yang ringkih tapi pintar, anak penurut yang jadi kebanggaannya, anak yang yang selalu di bully tanpa menceritakan dukanya pada sang ayah, anak yang sebenarnya salah melangkah pergaulan, anak yang siang tadi terjatuh karena hantaman benda tumpul, anak yang sekarang terbaring tak bernyawa di kamar mayat....

***********
   
Judul : AKHIRNYA AKU TAHU
     Aku bukan gay! Dalam hati aku selalu memberontak, menghianati dan bersikeras menolak perasaan yang sebenarnya selalu bergelanyut tentang perasaan 'aneh' saat melihat gambar-gambar cowok bahkan perasaanku tidak karuan saat melihat pak Iwan guru olah raga yang berbadan atletis. Mimpi basah? Aku mimpi dengan cewek kok! Pacaran? Sudah pernah dengan Susi, Tika, Dewi sampai yang lebih dewasa mbak Ratu. Gayaku? Sangat laki! Anti namanya kumpul dengan cewek-cewek, tidak nyinyir, hobi futsal, nonton film action dan aku malah terkesan cool.

     Semua berawal dari mimpi basahku untuk kesekian kali. Kala itu anehnya aku mimpi berpelukan dengan Rio sahabatku sampai bercumbu. Sejak mimpi itu, aku jadi terusik karena ada 'perbedaan', tiap rame-rame nonton bokep bareng Rio dan lainnya, aku cenderung melihat tubuh pemain pria nya. Aku juga semakin ingin selalu ketemu Rio, apalagi selepas futsal, aku diam-diam suka memperhatikan tubuh Rio yang sedang mandi. Sms pun sekarang jauh lebih sering ke Rio sampai tiap saat aku kepoin sosmed Rio sekedar cari tau postingnya atau sekedar melihat foto-foto gantengnya. Aku gay? Aku tidak mau! Apa kata dunia nanti?
      
sumber foto twitter
 

     "Eh, semalam gue udah em el, gue udah ga perjaka lagi. Anjrit lebih enak em el langsung daripada coli!" Kata Budi cuek saat kita selepas pulang sekolah kumpul di kamar Rio.

     "Ah serius? Akhirnya jebol juga lo" Seloroh Rio.

     "Sama sapa? Pecun?" Tanya Zac

     "Yoi! Ama pecun ga ribet, daripada sama cabe-cabean kayak lo Zac, yang ada tuh cabe ngejar-ngejar kan?"

    "Kalo lo diitung dah berapa kali?" Tanya Zac sambil melempar bantal ke Rio yang lagi asik main game di HP.

     "Eeemm, baru tiga kali hahahahah"

     "Eh kalo lo berapa?masih perjaka ya? Rugi lho hari gini belom praktek langsung, ngabisin sabun aja, enaknya kurang nendang! Dah berapa kali?" Tanya Rio mengagetkanku.

     "Pacar ganti-ganti, tapi dianggurin ya? Lumutan dong! Pantes cewek-cewek lo minta putus abis lo ga bisa sih ngasih enak-enak hahahhah eh jangan bilang lo gay ya?" Kata Zac langsung nusuk ke ulu hatiku.

     "Enak aja! Aku normal seratus persen!" Bantahku cepat untuk menutupi kegugupan

     "Yakin? Coba buktiin! Lo 'main' ama siapa kek. Oh aku ada ide, gimana kalo lo 'main' ama Yurike? Ituuu janda bahenol tetangga si Zac, kabarnya doi bispak! Murah kali" Kata Rio.

     "Lo pernah pake dia?" Tanyaku diam-diam cemburu

     Rio mengangguk, "Pernah dong, 'ngulek' nya? Hemmm bikin merem melek hahahahaha.. Oke,gimana? Mau? Lo harus buktiin kalo lo normal senormal-normalnya ga cuma omongan doang, kita khawatir lo gay, bisa-bisa kita di embat hahahaha"

      Sialan! Aku harus membuktikan kalau aku normal, tidak peduli cuma sekali harus em el dengan Yurike! Sore itu juga, aku mendatangi rumah Yurike diantar Rio dan Zac. Rumahnya sepi. Setelah Rio ngobrol dengan Yurike, aku diajak Yurike masuk ke kamarnya.

     "Heeemm ganteng masih perjaka ya?sayang lho, ganteng-ganteng ga dimainin" Goda Yurike, janda berumur sekitar 38 tahun dengan body super sintal.

     Aku duduk ditepi ranjang, Yurike mencopot sepatuku, lalu memijat dan meraba pahaku, lalu pelan menyentuh kelaminku.

     "Masih bobok dedeknya ya? Tante nanti bangunin yaaaa, tante suka digalakkin dedek deh. Sini tante lepas bajumu" Tante Yurike mencopot kancing baju sekolahku lalu meraba dada dan memilin putingku. Keringat mulai bercucuran, nafasku memburu, mataku terpejam.

     Yurike bangkit lalu menyalakan kipas angin, kemudian dengan gerakan menggoda melucuti bajunya sampai tersisa BH dan cawatnya yang super ketat. Aku kembali memejamkan mata. Aku berusaha untuk bisa horny, susah! Entah karena ini pengalaman pertama ataukah aku gay? Ah sialan! Aku bukan gay! Bukan gay! Aku bangkit lalu merengkuh tubuh Yurike, aku ciumi bibirnya, aku remas payudara yahudnya lalu aku dorong ke kasur dan aku tindih sambil mencopoti BH dan cawatnya. Yurike mendesah sambil tertawa kecil.

     "Aihh sudah galak ya?" Kata Yurike sambil meraba bagian penisku.

     Damned!! Penisku sama sekali tak bisa berdiri! Yurike mengernyitkan dahi, heran.

     "Kamu kenapa sayang?ngga tegang sama sekali?"

     Aku tersiksa, sangat tersiksa! Aku marah pada diriku sendiri pada keadaanku. Aku bangkit dari posisi menindih Yurike, lalu sambil membetulkan baju dan celana yang terbuka aku keluar dari kamar Yurike, lalu kulihat Rio dan Zac bangun dari duduknya diruang depan, menatapku heran.

     "Puas kalian? Puaaaaas??" Aku berlari keluar dari rumah Yurike tanpa menoleh ke belakang dimana Rio dan Zac mengejarku.

    "Aku... Gay!" Pekik hatiku ditengah langkah menyusuri gang menuju pulang ke rumah.



Salam Lekong

- Syahrintul -
Labels:

Post a Comment

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.